Pages

Minggu, 23 Januari 2022

Kisah Cinta Sederhana (Part 8)


Hati ku jujur udah panas, setiap kali lihat temen sekelas  jalan ke mall lah, ke bioskop lah, kadang rame rame karaokean sama geng nya dan aku selalu kebagian gigit jari. 

Karena sahabat sahabat ku juga bukan tipe yang suka main kesana kemari soalnya kita gak ada yang bisa naik motor kecuali Intan, jadi kalau ada jadwal kosong atau pulang lebih cepet karena dosennya gak masuk, aku dan sahabat sahabat ku hampir pasti langsung pulang kerumah masing masing. 

Dan aku selalu jadi penghuni perpustakaan, memanfaatkan fasilitas Wifi disana untuk mengerjakan tugas atau sekedar online Facebook. Jauh di lubuh hati ku, aku juga ingin main seperti yang lain, tapi mas rido gak punya motor, dan dia juga selalu sibuk ngurus kursusan, hampir gak punya waktu buat kita jalan berdua lagi. 

Aku beranikan diri buat kirim SMS :
-Mas lagi dimana? Hari ini jadwal aku kosong, dosennya berhalangan, aku diperpustakaan-
Tak lama muncul balasan
-Oke cinta, mas masih dikelas-
Aku mengetik balasan lagi
-Mas, kalau hari ini kita main gimana? Aku jenuh di kampus-
-Gak bisa cinta, mas hari ini jadwalnya full, sore juga ngajar di kursusan, lain kali ya cinta-
-kenapa sih kamu sibuk terus? Emang aku gak penting buat kamu? Udalah kamu kuliah aja aku gak mau di ganggu- seperti kebiasaan lama ku, aku langsung menonaktifkan HP karena kesal. 

Mood ku untuk mengerjakan tugas langsung sirna, aku buka Facebook dan mulai memainkan game kesukaaan ku : Cafeland walau dengan sinyal wifi yang lelet. 

Sudah satu jam lebih aku duduk disini, di pojokan perpustakaan, mataku sudah mulai lelah menatap layar laptop, aku memutuskan untuk pulang saja, toh gak ada yang bisa aku harapkan juga, mas rido kan sibuk. 

Aku bergegas merapikan isi tas dan laptop ku, terdengar seseorang menghampiri
"Cinta, ngobrol diluar ya"
"Enggak, aku mau langsung pulang"
"Ayo cinta, mas tunggu diluar"
Dengan tatapan penuh marah aku mengikuti nya keluar ruangan perpustakaan
***
Aku mendekatinya, duduk di ujung ruang perpustakan, gak banyak orang lewat, syukurlah aku takut gak bisa nahan tangis dan malu kalau diliat banyak orang

"Kenapa?" Tanya nya serius, jujur aku jadi takut lihat matanya, selama ini aku gak pernah liat mas rido marah, siang ini dia terlihat menyeramkan
"Iya aku marah. Mas sibuk...selalu sibuk! aku kemana mana sendiri, aku juga pengen main kesana kemari kayak orang pacaran pada umum nya"
Mas Rido diam, belum ada perlawanan
"Aku pengen main ke Mall, makan diluar, nonton di bioskop, bukan cuma di kampus terus, ketemu di kantin buka bekal makan" Jujur aku cari mati sih dengan ngomong gini, 
"Oke, maunya sekarang apa?"
Hati aku udah mulai nggak enak, mas rido biasanya gak setegas itu cara ngomong nya. Aku mau bilang putus tapi gak berani juga. 
Bibir ku mengerucut terisak menahan tangis
"Harusnya Cinta ngerti, banyak hal yang mas perjuangkan disini. Mas harus kuliah, kerja, ngajar di kursusan biar mas bisa cepet sukses, bukannya kita mau bawa hubungan ini lebih serius?"
Mataku semakin merah, hatiku sakit
"Mas tau cinta pengen main, tapi kita gak bisa kalau main main terus setiap hari. Mas tau dan yakin Cinta udah lebih dewasa dibanding temen temen yang lain, mas yakin cinta bakalan ngerti posisi mas, mas berjuang keras juga buat Cinta"
Aku semakin tidak bisa mengeluarkan kata kata, rasanya mulut ku terkunci rapat. 
"Nanti akan ada waktunya kita bisa main tiap hari, kita bisa barengan terus tiap jam tiap menit, sekarang izinin mas berjuang untuk mewujudkan itu"
Aku menghela nafas panjang
"Mas masuk kelas lagi, dosennya udah masuk, kabari mas kalau mau pulang" Dia berdiri dan perlahan meninggalkan aku yang bergelut dengan perasaan campur aduk

***
Aku sudah sampai dirumah, aku memutuskan untuk pulang tadi, karena suasana hatiku juga sudah kacau. 
Jujur hatiku sakit, bukan karena ucapan mas rido, tapi karena tindakan aku sendiri. Harusnya aku faham, ketika aku menerima dia, berarti aku sudah tau resikonya. Dia sudah jadi Pria dewasa, bukan Cowok yang masih senang wara wiri menghabiskan waktu dan uang dari orang tuanya. 
Dia sedang memperjuangkan diri nya sendiri, dan aku. 
Air mataku menetes lagi, padahal tadi sudah kering. Segera aku buka laptop, memasang modem dan mengirimkan chat, karena ngetik di SMS terlalu ribet dan panjang

"Mas, maafin aku. Selama ini aku cuma bisa jadi anak manja yang mungkin ngerepotin mas. Maafin aku yang belum bisa ngertiin mas, yang bisanya cuma marah marah. 
Mas, mulai hari ini aku mau berubah. Aku mau ikut berjuang sama mas, izinkan aku buat bareng bareng ngewujudin mimpi kita bersama"

Pesan terkirim, dan hatiku sangat lega.
Ah, rasanya aku seperti terlahir kembali menjadi Desy Versi lebih baik dan bijak, yah semoga aku bisa menunjukan keseriusan ku untuk berubah

*bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar