Pages

Rabu, 09 Februari 2022

Kisah Cinta Sederhana (Part 21)


Akhirnya atas restu mamah dan bapak, aku pergi ke brebes untuk bertemu calon mertua. 
Pergi ber tiga bersama Mas Rido dan A Dzikro menggunakan bis dari terminal indihiang. 

Aku pakai setelan rok dengan kerudung di julur kebawah, karena sebelumnya sudah di briefing oleh mas Rido untuk gak pake celana jeans ketat dan pakai kerudung yang menutup dada. Jujur sebetulnya style kerudung aku selalu di sampirkan ke belakang. 

Bis nya lumayan nyaman dengan fasilitas AC, minimal tidak akan ada orang yang merokok di dalam bis. Track record ku cukup bagus untuk perjalanan jauh, jarang mual apalagi muntah kecuali jika kondisi ku sedang tidak fit. 

Ternyata perjalanan naik bis ini cukup melelahkan, karena 3x ganti bis. Dan 2 bis selanjutnya tidak ber AC. Bis yang terakhir bahkan banyak orang merokok didalamnya, banyak berhenti lama untuk menunggu penumpang, jujur kepala ku sudah mulai keleyengan. 

"Sebentar lagi cinta" Mas rido menguatkan ku
"Mas, aku gak sanggup kalau nanti kita nikah, tiap mudik harus naik bis kayak gini" Aku memelas sambil menahan mual
"Nanti kita cari cara lain buat mudik yaah kalau udah nikah biar cinta lebih nyaman" Dia menepuk nepuk punggung ku
Aku menyesal, bisa bisa nya dulu aku berdoa ingin mendapatkan calon suami orang jauh biar tiap lebaran bisa merasakan mudik seperti orang lain. Ternyata mudik gak selama nya menyenangkan. 

Setelah menempuh perjalanan hampir 6 jam lamanya, akhirnya kita turun dari bis terakhir ini di pinggir jalan raya dengan jalan kecil di sebelah kanannya. 
"Ayo cinta, kita jalan dulu, rumah mas disana masih harus jalan" Mas rido merapikan tas gendong nya. Ya tuhan, ku kira penderitaan ku sudah berakhir, ternyata masih harus jalan kaki menuju rumah calon mertua. 
Dengan lemah lunglai aku mulai jalan, sambil merapikan jilbab ku yang semerawut. 

Lalu tibalah kami di depan rumah ber cat hijau dengan banyak bahan kayu dan kursi di depan nya, aku baru tau kalau calon bapak mertua ku selain bekerja sebagai penjaga sekolah, beliau juga pengrajin kursi dan sofa. 
Pintu depan rumah terlihat terbuka, sepi. Mungkin mereka sedang berisitirahat. 
"Assalamualaikum bu, dodo pulang bu" Mas Rido masuk, mempersilahkan aku dan a Dzikro untuk ikut masuk dan duduk. 

Lalu keluarlah sosok wanita dari arah dapur, memakai daster khas ibu ibu, dengan beberapa helai uban di rambutnya. 
Mas Rido mencium tangan ibu, di ikuti aku dan a Dzikro. 
"Ini Desy bu, ini Dzikro temen dodo di kuliahan"
"Oh iya, cape ya? Ayo istirahat, makan dulu ibu udah masak" Ibu berbicara dengan logat khas jawa, medok dan cepat cara bicaranya. 
Tak lama keluar juga lelaki berpostur tinggi, badannya sedang, tidak kurus dan tidak gemuk, wajahnya 90% mirip dengan mas Rido, sudah bisa ku tebak kalau ini Bapaknya. 
"Baru sampai? Jam berapa berangkat darisana?" Tanya nya sambil mendekati kami, lalu kami bergegas mencium tangan nya. 
"Pagi pak berangkatnya, bis nya banyak berhenti" Mas Rido meletakan tas gendong nya di lantai
"Oh ini desy ya? " Bapak menatap ku, aku tersenyum gugup
"Iya pak" 
"Masih kuliah semester berapa? "
"Semester 4 pak, beda setaun sama mas Rido" Jujur jantungku rasanya mau copot, lututku lemas, berharap mas rido mempersilahkan lagi kami untuk duduk. 
"Ayo duduk, istirahat aja dulu, habis itu makan, udah di siapin itu makanan nya" Lanjut bapak
"Oh iya makasih pak" Aku kembali duduk, menyeruput air teh di depan ku yang sudah di sediakan oleh ibu
***
Badan ku rasanya lengket setelah menempuh perjalanan jauh ini. Aku meminta izin untuk ikut mandi lalu sholat ashar. 
Ibu menunjukan kamar mandi nya, ada sumur di bagian luar kamar mandi lengkap dengan katrol, timbaan dan embernya. Firasat ku gak enak, jangan jangan memang disini belum pake sanyo dan aku harus menimba air untuk mandi. 
Betul saja ternyata, ada ember ember kosong di dalam kamar mandi, satu nya terisi penuh, yang lain masih kosong, karena aku ingin mandi dengan puas, satu ember pastilah tidak cukup. Aku harus menimba air, memenuhi ember lain yang masih kosong. 

Jujur aku lupa kapan terakhir kali aku belajar menimba air, mungkin jaman masih kecil di rumah nenek. Aku menurunkan ember yang langsung meluncur bebas mengakibatkan tali nya keluar dari katrol, nyangkut di sela pinggir kantrol. 

Sial! 
Aku panik langsung memanggil mas Rido
"Kenapa cinta? "
"Itu nyangkut mas, gak bisa di tarik"
Mas rido tertawa, "kalau gak bisa minta tolong mas aja cinta"
Aku malu sekali, ada ibu yang sedang menonton TV. Jangan jangan ini langkah awal kegagalan ku masuk dikeluarga ini, nimba air saja belum lulus. 
"Cinta, tau gak kenapa dada mas bisa sebidang ini? " Katanya sambil menimba air
"Rajin olahraga?" Tebak ku
"Enggak cinta, karena dari kecil mas udah terbiasa ngambil air dari sumur gini buat ibu masak, nyuci, segala macem"
"Oowwwhh..." Aku melihat ember ember di kamar mandi sudah mulai penuh, ah rasanya aku sudah tak sabar ingin mandi dan membersihkan diri. 
"Mas, makasih ya aku mandi dulu, besok aku belajar nimba air sendiri" Kataku sambil nyengir dan menutup pintu kamar mandi

***

Malam hari nya setelah sholat isya, barulah bapak bisa benar benar mengobrol dengan kami. 
Aku, mas Rido, a Dzikro dan bapak mengobrol di ruang depan sambil menikmati mendoan di cocol kecap pedas yang di beli dari tetangga depan, sementara ibu dan adiknya mas Rido terlihat berada di depan TV. 

"Bapak kerja dimana? " Bapak memulai percakapan
"Di koramil pak, sebentar lagi sudah mau pensiun, kalau mamah dirumah aja, kadang sambil jualan buka warung kecil di depan rumah nenek" Aku sudah mulai bisa menjawab dengan tenang
"Oh iyaa, bapak disini cuma penjaga sekolah, ibu jualan di kantin tempat bapak sekolah, tapi alhamdulillah meski penjaga sekolah, bapak statusnya sudah PNS, bentar lagi pensiun juga" 
"Ooohhh iya pak" Aku mengangguk faham
"Jaman dulu, penjaga sekolah bisa jadi PNS, alhamdulillah ada jaminan buat hari tua" Lanjut bapak. 
Aku berfikir ternyata mas rido kehidupan ekonominya bisa dikatakan menengah, tapi kenapa dia banting tulang sendiri membiayai kuliahnya. 
"Dodo dulu minta izin kuliah, cuma bapak nggak izinin. Malah nekat ke tasik daftar kuliah gak bilang bilang, bapak tau nya dodo udah masuk kuliah aja" Bapak seakan menebak isi pertanyaan dalam fikiran ku
"Dia mau bayar uang kuliah sendiri katanya biar banyak pengalaman dan mandiri, ya bapak cuma bantu kasih uang jajan aja sedikit, adik nya dodo kan masih sekolah juga"
"Oohh iya pak" Aku mengangguk lagi
"Ayo dimakan lagi itu makanan nya, bapak tinggal dulu ke belakang" Bapak berdiri lalu pamit keluar dari ruang tamu. 
"Nakal kamu ya kabur ke tasik gak bilang bilang orang tua" Bisik ku
"Kalau mas gak kabur ke tasik, mas gak akan ketemu cinta" Jawabnya
Tawa kami bertiga menutup percakapan malam ini, badan kami pun sudah lelah karena perjalanan panjang. Aku segera masuk kamar untuk tidur, tak lupa minum tolak angin agar kondisi ku besok semakin membaik. 

*bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar