Pages

Selasa, 31 Mei 2022

Tentang Mimpi dan Cita cita

"Kapan punya rumah yang lebih besar? Ini barang barang dirumah makin numpuk aja disana sini, malu kalau ada tamu" 
Ya beginilah kurang lebih komentar orang tua ku, hampir setiap kali berkunjung ke rumah mungil kami. 

Kebetulan sekali kami tinggal diperumahan subsidi tipe 36, sudah kebayang ya semungil apa rumahnya. Ditambah kami aktif berjualan online, tiap datang stock barang jualan mestilah rumah kami semakin sesak, jadi wajar juga kalau orang tua berkomentar demikian. 

Aku biasanya hanya senyum dan menjawab : "insyaallah kalau lahir anak ke 3 nanti kita bangun rumah yang lebih besar". Ku jawab begini bukan karena tabungan ku sudah banyak, percayalah tabungan kami saja awal tahun ini sudah terkuras untuk keperluan mudik dan bayar sekolah si sulung yang baru daftar ke salah satu SD swasta. Belum lagi aku dengan kondisi hamil anak ke 3, tentunya ke depan harus menabung ekstra untuk keperluan menyambut sang calon anggota baru. 

Tapi sejak dulu, aku percaya setiap anak selalu membawa rezeki masing masing. 
Dulu sekali, kami tinggal di kontrakan sepetak yang hanya punya 1 kamar, 1 ruang tamu kecil dan dapur sempit yang bahkan luasnya gak bisa dilewati 2 orang dalam waktu bersamaan. 

"Kapan ya mas kita punya rumah sendiri yang lebih luas dari ini?"
"Insyaallah tahun ini kita punya rumah sendiri" Jawabnya mantap
Aku hanya bisa tersenyum kecil, bagaimana mungkin punya rumah sendiri, tabungan kita aja masih jauh dari kata cukup. Seingat ku dulu saat anak pertama kami, Arnela berusia 14 bulan, kami baru punya tabungan sekitar 10juta, tentunya nominal ini masih jauh untuk kami bisa punya rumah sendiri dengan cepat. Ambil perumahan sekalipun ini mungkin hanya cukup untuk bayar DP rumahnya, sementara di perumahan subsidi kita harus bangun dapur, benteng, pagar segala macam dengan biaya terpisah diluar itu. 

Lucu, waktu itu tiba tiba aku mengajukan syarat pada suami : "mas, aku sanggup punya anak ke 2 walau jarak dekat, asal kita sudah punya rumah sendiri, gak tau kenapa aku belum mau nambah anak kalau kita masih terus terusan ngontrak"

Sejak dari itu, kita punya target dan semangat baru. Suami kerja dan ambil sampingan untuk ekstra menabung, akupun dirumah bantu dengan wirausaha kecil kecilan (dulu masih produksi bros dan souvenir nikahan yang kukerjakan sendiri sambil ngasuh anak). 

Tepat di usia anak pertama menginjak 20 bulan, kami akhirnya nekat ambil rumah di salah satu perumahan di Rajapolah. Walau prosesnya lama, bangun dapur dll pun banyak tersendat karena keterbatasan biaya, namun akhirnya di usia Arnela 22 bulan, kami sudah pindah menempati rumah baru. 

Sesuai janji, setelah punya rumah sendiri tak menunggu lama akupun langsung hamil anak ke dua. 

Perjalanan kami masih berlanjut, karena harus bayar cicilan yang lumayan besar nominal nya untuk kami yang pada waktu itu gaji tetap suami baru 1,2 juta. (Ini dipake bayar cicilan aja udah cuma sisa buat jajan sehari dua hari) sehingga kami kembali banting tulang jualan ini itu. 

Anak pertama kami jadi saksi, belanja barang naik motor panas panasan, kehujanan, tak jarang gadis kecil kami harus rela duduk diatas tumpukan barang di motor, saking sudah penuh sesak dengan kondisi aku yang hamil anak ke dua, sungguh nikmat rasanya. 

Setiap lihat mobil lewat, aku bersholawat. Berdoa dalam hati berulang ulang :
"Ya Allah, semoga anak ke dua kami ini membawa rezeki besar untuk keluarga kami, insyaallah anak ke dua punya mobil, biar kalau belanja barang gak perlu desak desakan, kepanasan dan kehujanan" Doa yang selalu ku ulang ulang hampir setiap bepergian lihat mobil berseliweran. 

Alhamdulillah, setahun setelah anak ke dua lahir, kami di amanahi mobil. Meski kondisinya sudah tua, bener bener mobil tua dan antik tapi kondisi nya masih cukup bagus, masih bisa dipake bepergian dan angkut angkut barang, walau tanpa AC, kalau cuaca panas kita semua kayak kepiting rebus, merah kepanasan dalam mobil. Alhamdulillah mobil antik yang kami beri nama Oma ini lah yang menjadi saksi perjalanan baru kami, mobil ini yang menemani kami pindah dari bisnis ke bisnis, sampai suatu hari karena Oma sudah tua juga dan sering dipakai angkut barang banyak, dia sudah tak sanggup bertahan, hampir 2 minggu sekali masuk bengkel. 

"Mas, kayaknya kita harus kerja keras lagi biar bisa ganti mobil" Mengingat kejadian terakhir tergolong parah karena tiba tiba ban depan Oma copot sendiri menggelinding saat dipake, untunglah gak ada kecelakaan atau apapun karena kebetulan jalanan sepi dan bukan di jalan raya kejadiannya. 

"Bun, insyaallah tahun ini kita ganti mobil, selambat lambatnya tahun depan ya" Begitu komentar suami. 

Pede sekali ku bilang, karena aku tau sekali berapa uang tabungan kita pada saat itu, sementara kita bercita cita membeli mobil dengan cash walau second, karena tidak mau lagi terbebani cicilan, cukup cicilan rumah saja. 

Aku sempat mengajukan mahar saat suami disaat yg sama meminta ingin program anak ke 3.

"Boleh, aku sanggup. Setelah ganti mobil, mobil apapun itu asal lebih nyaman dan bisa angkut barang buat jualan dan gak sering ke bengkel, saat itu aku sanggup hamil anak ke 3"

Dan keajaiban terjadi lagi, entah bagaimana allah mudahkan jalannya, kami pernah jualan 3 bulan berturut turut dengan laba bersih per bulannya 7-10juta, sehingga pertengahan tahun saldo tabungan kami terkumpul 50juta. Tapi belum cukup untuk membeli mobil yang lebih muda sesuai kriteria yang kami mau. 

Sempet mau beli mobil kecil seperti karimun, karena memang budget nya hanya cukup untuk mobil tipe itu, tapi mengingat kami ini orang jualan yang sering angkut barang dengan jumlah besar, maka kami bersabar lagi sambil ikhtiar mencari tambahan uang, dan menunggu mobil lama terjual agar ada tambahan dana. 

Alhamdulillah, menjelang akhir tahun 2021. Berjodohlah kami dengan salah satu mobil yang sesuai dengan kriteria yang kami cari, dan sesuai budget yang kami punya, gak perlu mewah karena kami cari mobil sesuai fungsinya juga. 

Tak lama dari itu, sesuai janji. Di akhir pergantian tahun, aku hamil anak ke 3.

Aku selalu percaya bahwa hal yang kita impikan selama kita yakin dan percaya, dibarengi dengan ikhtiar dan doa, kalau Allah sudah berkehendak, tak menunggu lama kun Fayakun saat itu juga Allah mudahkan jalan nya. 

Selalu percaya bahwa mungkin bagi manusia terlihat mustahil, tapi bagi Allah tidak ada yang mustahil, semua mudah bagi NYA. 

Tetap optimis, tetap ikhtiar dan jangan lepas berdoa. Insyallah semoga mimpi mimpi kita yang lain bisa terwujud kembali dengan kehendak NYA. 🥰

Minggu, 22 Mei 2022

Gadis dengan impian yang sederhana


19 tahun usianya kala itu. 
Seorang gadis yang sudah menginjak usia dewasa, berstatus mahasiswi di salah satu Sekolah tinggi jurusan Ekonomi. 

Track record nya cukup bagus, meski bukan gadis dengan IQ cerdas, tapi dia selalu berhasil mendapatkan rangking bagus selama sekolah, begitupun di Kampus, bisa di bilang dia salah satu mahasiswi  berprestasi. 

Meski begitu, cita citanya tidaklah muluk. Gadis ini hanya punya impian yang sederhana :
Menikah di usia muda, punya anak perempuan yang lucu dan menggemaskan, memasak makanan dan camilan untuk anak anak, mengantar dan menyambut suami pulang kerja di depan rumah dengan hati bahagia. 

Pernah dia bercita cita kerja kantoran, kerja di Bank, atau menjadi dosen. Tapi hanya sekelebat keinginan dalam hatinya, tidaklah sekuat cita citanya untuk menikah muda. 

Meski usianya masih muda, tapi sudah banyak hal yang dia lalui, latar belakang masalah keluarga yang bermunculan pun mulai mendewasakan nya, dia sudah terbiasa hidup mandiri, mencari uang jajan sendiri dengan segala cara di usianya yang masih terbilang muda. 

Rasa lelah dengan kehidupan yang setiap hari dia jalani , dan semua kesedihan selalu dia tanggung sendiri, membawanya berfikir bahwa mempunyai suami mungkin bisa mengurangi bebannya, akan ada pundak kokoh yang bisa jadi sandarannya ketika beban hidupnya semakin bertambah. 

Si Gadis ini sungguhlah beruntung, bertemu dengan lelaki yang meskipun belum mapan secara finansial, tapi di mata nya dia bisa melihat kehidupan yang bahagia, di genggaman tangannya dia temukan kenyamanan, dan di pundaknya dia bisa sandarkan semua beban dan kesedihan. 

Bersama lelaki ini dia berjuang dari titik terendah, hidup di kontrakan sepetak dengan motor tua yang sering mogok di jalan. Apakah dia bahagia? 

Ya, lebih bahagia dari kehidupan sebelumnya yang dia jalani. 

Dia bahagia, karena impiannya tercapai, meski tidak semulus yang dia bayangkan, tapi inilah kehidupan yang selama ini dia Inginkan. 

Dan inilah Gadis itu sekarang, dengan segala keinginannya dalam kehidupan ; suami yang baik, anak anak yang lucu dan menggemaskan. Dia bahkan bisa memasak dan membuatkan camilan untuk keluarga kecilnya, hal hal sederhana yang mampu membuatnya Bahagia. 


Selasa, 01 Maret 2022

Kisah Cinta Sederhana Part 24


Aku di tawari salah satu teman kampus ku, A irma namanya, untuk menjadi salah satu vokalis di group band religinya. 

Aku yang memang sudah hobi menyanyi sejak duduk di bangku sekolah dasar ini tentunya tidak akan menolak tawaran ini, terlebih band nya pop religi, aman. Asal jangan aliran dangdut. 

Meski sejak kelas 2 SD aku sudah berkecimpung di panggung dangdut, ya aku memang mantan artis cilik dangdut yang manggung kesana kemari sejak kecil, selalu di kawal oleh bapak yang juga seorang TNI. 

Mamah dan Bapak mendukung penuh bakat menyanyi ku. Bapak sengaja membeli sound besar beserta mic dan kaset CD lagu lagu dangdut karaoke agar aku bisa berlatih menyanyi. Karena dukungan penuh orang tua pula, sejak kelas 2 SD aku sudah bisa menjuarai berbagai kompetisi menyanyi termasuk kompetisi yang di adakan dinas pendidikan. Prestasiku sudah melenggang ke tingkat kabupaten berkali kali, walau selalu gagal naik ke tingkat provinsi. 

Aku segera menelpon mas rido ingin memberikan kabar baik ini, sebagai anak muda yang selalu ingin mencoba hal dan pengalaman baru, semangat ku selalu menggebu gebu. 

"mas, boleh gak? " Tanya ku setelah kuceritakan panjang lebar tentang rencana ku masuk ke group band Religi the badr
"Cinta bakalan nyaman? Dari yang mas denger tadi sepertinya cinta akan jadi satu satunya personil perempuan disana" Jawabnya
"Nggak apa apa sih aku nyaman nyaman aja, aku juga kenal orang orangnya kok, bahkan pemimpin band ini guru ngaji juga loh, meski belum nikah sih" Jelas ku
"Latihannya kapan? Jam berapa? "
"Kata a irma sih mulai malam minggu ini, karena kita ada perform 3 minggu lagi"
"Mas gak bisa anter cinta latihan kalau malam minggu, cinta kan tau mas ke Jakarta setiap weekend" Nadanya mulai tidak bersahabat
"A irma bisa anter jemput aku kok katanya mas, gak lama latihannya paling sampe jam 9 malem" Aku ngotot, karena jujur naik ke panggung lagi adalah salah satu impian ku. Maklum aku sudah vaccum terlalu lama, terakhir aku menyalurkan bakat menyanyi ku sejak kelas 6 SD, lalu aku pensiun menjadi artis dangdut sejak itu. 

"Ya udah terserah cinta, yang penting cinta nyaman" Aku tau dia tidak sepenuhnya mendukung ku kali ini, tapi aku akan tetap maju dengan keputusan ku. 

***
Sejak pagi aku sibuk mengerjakan tugas dan kuis mata kuliah pemasaran, aku bersemangat menyelesaikan tugas tugas ku karena malam ini perdana aku latihan Band. Dan besok hari minggu aku berencana membawa anak anak kursusan ku untuk belajar outdoor di salah satu tempat wisata kolam renang. 

Sampai siang ini mas rido belum ada kabar, entah itu berupa SMS, chat atau telpon. Mungkin dia sibuk, karena hari sabtu memang jadwal nya mengajar di kursusan Jakarta. 
Aku pun masih merasa kesal karena aku merasa kali ini dia tidak benar benar mendukung keputusan ku. 
Terserah lah, dia mau kasih kabar atau enggak aku pun sedang sibuk juga disini. 

HP ku bergetar, segera ku raih dengan bersemangat
"Des, Aa jemput habis isya" Aku membaca pesan di layar HP ku,  ada sedikit perasaan kecewa, karena ku fikir tadi yang mengirim pesan adalah mas Rido, ternyata a Irma. 
"Okey aa, kabarin yaa nanti kalau udah jalan, biar aku nunggu di depan Gang aja" Aku mengetik balasan sms ku. 
Aku kembali sibuk dengan tugas tugas ku, lalu iseng membuka Facebook untuk mengecek jejak online mas rido di chat. 
Dan ternyata dia aktif 30 menit yang lalu, dan tidak mengirimi ku satu chat pun? Keterlaluan. 
Baik, aku pun bisa melakukan hal yang sama, jangan fikir cuma dia aja yang bisa menghilang tanpa kabar. 
***
Aku datang ke studio latihan setelah isya, group musik ini sudah punya studio sendiri, ruangannya tidak terlalu besar tapi sangat cukup untuk kami latihan. 
Aku mulai test vocal dengan menyanyi solo, sudah kuhafal list lagu solo, duet dan group ku selama seminggu ini. 
Tidak ada kendala, semuanya berjalan lancar dan tenang, aku pun sudah mulai akrab dengan personil lainnya selain a irma sang drummer. 
Waktu sudah menunjukan jam 9 lewat 15 menit, aku mengecek layar HP ku. Masih belum ada tanda tanda kehidupan dari mas Rido, aku menghela nafas kesal lalu segera memasukan HP ku kembali ke dalam tas. 

"Kamu udah izin belum sama mas Rido ikut latihan ini?" Tanya a irma di perjalanan pulang
"udah sih" Jawab ku singkat, mood ku sedang rusak
"Dia gak marah kamu di anter jemput Aa? "
"Enggak sih kayaknya a" Mana mungkin dia marah, a irma ini salah satu teman yang sering dilibatkan di berbagai acara nya, termasuk acara terakhir seminar bahasa inggris nya. 
Aku sama a irma dekat hanya sebatas teman, tapi dia memang tipe cowok humble dan supel hampir semua cewek sangat gampang dekat dengan nya, karena jujur orang nya asyik juga. 
Wait, mas Rido cemburu sama a irma? 

Tapi nggak mungkin. Mas Rido adalah orang paling percaya diri sedunia, dia selalu percaya gak akan pernah ada cowok lain sebaik dia yang bisa buat aku jatuh cinta, makanya dia gak pernah cemburuan meski aku dekat dengan cowok manapun di kampus. 
"Ya syukur kalau dia gak marah, kapan kapan ajakin dong dia main ke studio, biar kenal sama personil lain, siapa tau dia khawatir karena kamu cewek sendirian kan, kalau udah kenal pasti dia juga tenang" Kata a irma
Iya, mungkin sebaiknya begitu. Karena mas Rido cuma kenal sama A irma dan gak kenal sama personil lainnya, mungkin itu membuatnya khawatir. 

Aku menutup pintu kamar, melempar kan tas dan menjatuhkan diriku di kasur. 
Aku mencoba menarik nafas panjang lalu berakhir senggukan, aku bahkan tidak bisa lagi membendung air mata yang jatuh begitu saja. 
Sekali lagi aku membuka layar HP ku dan tidak ada notif apapun disana, 
Aku segera mengetik SMS pendek lalu mengirimkannya segera ke kontak tujuan. 
-----MAS KAMU JAHAAATTTT!!! ----

**Bersambung



Minggu, 20 Februari 2022

Kisah Cinta Sederhana (Part 23)


Tak terasa 5 hari sudah perjalanan mudik ku disini, total 4 hari di Brebes dan 1 hari di purwokerto, tempat dimana Mbak nya Mas Rido tinggal.

Semua keluarga Mas Rido baik, ramah dan menerima aku apa adanya. Mereka tau kalau aku sama seperti cewek sunda kebanyakan : Manja dan nggak begitu rajin mengerjakan pekerjaan rumah.
Semoga cewek sunda ini lolos menjadi salah satu kandidat calon istri mas Rido.

Hari ini kami pamit pulang kembali ke Tasik, dengan dibekali banyak oleh oleh dari bapak dan ibu, kami berangkat menggunakan bis jurusan Purwokerto-Tasikmalaya.

"Gak berasa ya mas liburannya, kayak bentar banget hehehe" Aku melihat ke jendela bis yang sudah bergerak maju memulai perjalanan.
"Gak akan berasa lah, kita kan main terus disana" Jawabnya
Betul, setiap hari kita pasti main ke tempat tempat wisata disana, diantaranya Waduk penjalin, kebun teh Kaligua, lalu ke alun alun purwokerto di hari terakhir.
"Kira kira bapak sama ibu ngasih restu gak ya buat kita mas?" Tanya ku harap harap cemas
"Cinta inget gak yang pas kita dateng ke rumah mbah? "
"Yang di belakang rumah? "
"Iya, itu mas di suruh bapak buat bawa cinta ke Mbah" Jelasnya
"Oh terus buat apa? "
"Ya buat silaturahmi lah, dan Mbah juga bilang kalau Mas suatu hari nikah sama Cinta insyaallah gak akan kenapa napa"
"Jadi? "
"Jadi ya kita di restuin, tinggal gimana caranya cari uang 20juta sesuai syarat dari mamah biar kita bisa segera nikah"
"Hah? Beneran? Aku seneng bangettt mass!! Aku juga mau giat kerja buat bantuin mas ngumpulin uang"
"Makasih yaa cinta, mas juga bakalan lebih semangat lagi kerjanya" Dia tersenyum tulus penuh rasa sayang

***

"Mas, aku dapat tawaran ngajar" Aku menyuapkan bekal makan yang ku masak sendiri hari ini
"Ngajar dimana cinta?"
"Di SMK , mas tau Luqy gak? Temen sekelas aku yang sekarang udah nikah, yang suka bawa mobil sedan item? "
"Ohhh cowok yang pernah deket sama cinta?" Sindirnya
"Hehehe ya begitulah" Aku tersipu malu, sebelum dekat sama mas rido, aku sudah melanglang buana dekat dengan beberapa cowok di kampus yang sesuai kriteria ku walau ujung ujung nya kepentok pesona nya Mas Rido
"Dia punya pesantren mas, nah tahun ini dia bikin sekolah SMK, butuh beberapa tenaga pengajar, aku di tawarin ngajar disana" Jelasku rinci
"Cinta kan kuliah, gak bentrok tah? "
"Enggak, jadwal ngajar akan di sesuaikan dengan jadwal kuliah aku, gak tiap hari juga sih aku ngajar nya, cuma ngisi posisi guru yang masih kosong aja, gimana? "
"Oke, maju aja cinta. Kesempatan bagus buat nambah pengalaman cinta, mas dukung 100%" Dia mengacungkan 2 jempol nya
"Yeaayyy!! Makasih mass!!" Aku bersorak kegirangan

***
Ini hari pertama ku mengajar di SMK. Aku memilih menggunakan Jeans dan kemeja tunik karena setelah mengajar aku langsung tancap ke kampus untuk kuliah.

Murid ku dikelas X ini baru 5 orang, laki laki semua. Mereka semua adalah santri di pesantren itu yang sekarang merangkap jadi murid baru di sekolah yang didirikan pesantren juga.

Aku yang hanya punya pengalaman mengajar anak SD di kursusan, cukup grogi untuk memulai mengajar anak yang lebih besar, apalagi muridku ini laki laki semua dan yaah sebagian ada yang cuek, hanya satu orang saja yang terlihat serius dan sopan.

Aku sudah menyusun materi bahasa Inggris lengkap dengan game dan hadiahnya. Tak ada bedanya anak SD dengan SMK ku fikir  akan sama sama seru kalau materi belajar di padukan dengan game.

Benar saja, cara ini cukup efektif. Yang cuek dan masa bodoh dikelas, sudah mulai tertarik. Anak anak yang banyak melakukan kesalahan penuh dengan coretan bedak di wajahnya, dan yang paling banyak menjawab benar mendapatkan hadiah 1 batang coklat Silverqueen.

Ada kebanggaan tersendiri melihat anak anak begitu excited belajar,  memberikan energi positif buat ku juga agar lebih kreatif lagi kedepannya.

***
"Cinta, main ke kursusan mas yuk kan udah lama cinta gak nengok kursusan"
Ya, sejak lulus level 2 di kursusan bahasa inggrisnya mas rido, otomatis aku jadi alumni dan jarang main kesana.

Mas Rido tinggal di rumah salah satu dosen tempat kami kuliah. Beliau sudah sangat berumur mungkin usianya sudah hampir 70 tahun tapi masih aktif mengajar mata kuliah Tasawuf di kampus, pak H. Ahdi namanya.

Beliau ini dulu nya pernah belajar di kampung inggris Pare kediri, tempat dimana mas rido mengajar bahasa inggris.
Pak H. Ahdi yang sudah berumur namun masih semangat mencari ilmu ini otomatis menjadi murid nya mas rido di kampung inggris sana.

Setelah beres belajar Bahasa Inggris selama berbulan bulan di kediri, pak H Ahdi lalu pulang kembali ke tasikmalaya. Dan Mas rido yang galau karena putus dengan pacarnya yang sempat dia perjuangkan dulu, tapi terbentur restu orang tua sang pacar sampai hubungan mereka harus kandas ditengah jalan, akhirnya memutuskan untuk pergi ke jogja dengan harapan disana bisa sukses buka kursusan bahasa inggris dengan menumpang hidup di kosan salah satu temannya.

Malang, bukan kesuksesan yang dia raih disana, uang nya malah habis tak bersisa sampai makan pun ikut numpang ke temennya.
Di saat itu lah Pak H. Ahdi sang murid tertua nya mas Rido di kampung inggris pare ini menelpon untuk menanyakan kabar.
Beliau mengajak mas Rido untuk tinggal ditasik dan menjalankan kursusan bahasa inggris disana.

Singkat cerita, berbekal uang 150ribu hasil pinjaman ke teman nya di jogja, berangkatlah mas rido ke tasikmalaya, menemui pak H. Ahdi yang sekarang sudah seperti bapak kedua baginya.

Mas Rido diberi tempat untuk tinggal. Satu ruangan di belakang untuk dia tidur, satu ruangan di depan untuk kursusan. Tak hanya itu, pak H. Ahdi pula yang mendaftarkan mas Rido untuk kuliah di Jurusan Ekonomi, menanggung makan nya pula sehari hari.

Mas Rido merasa jasa pak H. Ahdi terlalu besar, dia tak mau lagi banyak merepotkan makanya dia kerja keras juga agar bisa membiayai kuliah nya sendiri dan bisa beli makan sendiri.

"Hay" Dia mengagetkan ku "kok ngelamun? "
"Enggak, gak kenapa napa" Aku berkeliling melihat ruangan kursusan, melihat tempat mas rido tidur, hanya ranjang kayu tanpa kasur. Membayangkan betapa pinggang ku akan sakit kalau tidur diatas papan keras itu.
"Kalau suatu hari kita nikah, kita masih tinggal disini mas? " Tanyaku iseng
"Ya enggaklah,  masa tinggal disini bawa istri cantik. Mas akan siapkan tempat tinggal terbaik buat cinta biar nyaman"
"Emang kita kalau nikah gak akan tinggal dirumah orang tua aku mas? "
"Enggak, kita ngontrak aja yaa walau sepetak asal nyaman buat kita berdua" Balasnya
Aku menghela nafas, tak pernah terbayangkan sebelumnya aku akan memulai hidup berumah tangga di kontrakan sepetak, bayangan ku dulu setelah menikah aku tinggal dirumah besar berlantai dua, ada garasi dan taman kecilnya.

Ah sudahlah, lagian hidup memang tidak selalu berjalan seperti apa yang kita bayangkan.
"Cinta, mungkin sekarang mas nggak punya apa apa, tapi mas janji akan sekuat tenaga berjuang buat cinta, biar cinta bisa dapat kehidupan yang layak setelah menikah sama mas" Tatapan nya sendu, tapi aku yakin tak ada keraguan di dalam nya.

"Aku tau, aku pilih kamu karena aku tau kamu pekerja keras" Aku membalasnya dengan senyuman, meski hati ku tak karuan.

Andai dulu ku terima pinangan sang bos kredit, mungkin hidup ku sudah lebih baik sekarang. Tak perlu capek  ngajar di sekolah dan kursusan, gak perlu hidup ngirit, mungkin saja aku sudah punya mobil bagus hari ini.

Ah, lupakan.
Ini jalan yang sudah aku pilih sendiri, dan harus aku jalani sebaik baiknya, jangan lagi ada kata penyesalan.

Aku akan bahagia bersamanya, meskipun tak punya harta, tapi dia punya sesuatu yang jarang laki laki lain punya : Ketulusan, semangat, kerja keras.
Ya, aku yakin semua mimpi ku akan terwujud bersama nya walau mungkin prosesnya panjang, aku akan dengan sabar menempuh perjalanan panjang ini bersama nya.

*bersambung










Senin, 14 Februari 2022

Kisah Cinta Sederhana (Part 22)



Alarm HP ku berbunyi, kulihat jam yang tertera di layar HP ku : pukul 04.10, ah kenapa juga aku menyetel alarm terlalu pagi, biasanya juga bangun setengah 6 pagi. 

Oh iya, Aku dirumah calon mertua! aku mengucek ngucek mata, mengumpulkan nyawa, merapikan baju tidur dan mengenakan jilbab instan ku. 
"Aturan pertama di rumah calon mertua adalah bangun sepagi mungkin" Gumamku pada diri sendiri, walau mata rasanya masih susah terbuka. Aku membuka pintu kamar, berjalan menuju kamar mandi, mas Rido dan a Dzikro masih terlelap tidur. 

Aku menggunakan sendal jepit, karena ruangan  belakang belum diberi lantai keramik. Kamar mandi bersebelahan dengan dapur, aku tengok tungku api sudah menyala, tampak nya ibu sedang membuat nasi. 

Dirumah ini masih serba tradisional, tidak ada sanyo, ricecooker, kulkas, mesin cuci, bahkan kompor gas pun tak ada. 
Ibu pastilah sosok yang kuat dan sabar karena mampu melakukan semua pekerjaan rumah dengan cara manual tanpa bantuan alat canggih. 
Aku mendekati ibu yang sedang memotong motong sayuran di dapur
"Bu... udah mau masak? "
"Eh udah bangun des, iya ini ibu masak pagi soalnya harus berangkat ke sekolah pagi pagi barengan sama bapak" Jawabnya masih dengan logat jawa yang medok 
"Oh iyaa bu, aku ke kamar mandi dulu yaa buu" 
"Iya, gak perlu nimba air des, udah di isi penuh embernya" Katanya sambil melemparkan senyum
"Oh iya makasih bu" Aku masuk kamar mandi sambil tertawa kecil, padahal pagi ini aku mau mencoba peruntungan menimba air sendiri, tapi ternyata sudah di isi penuh semua embernya, syukurlah. 

Setelah sholat subuh, aku kembali menuju dapur, mencari pekerjaan yang bisa kulakukan disana karena aturan nomor 2 di rumah calon mertua adalah : Terlihat Rajin dan terampil melakukan pekerjaan rumah. 

Ibu terlihat sedang menggoreng tempe, sementara oseng sayuran sudah siap di meja. Bapak sudah pulang dari mesjid dan meneruskan tadarus Al-Quran di ruangan mushola kecil dekat dapur. 
Aku melihat piring piring kotor menumpuk di WC luar, "oh apa aku bantu cuci piring aja ya?" Kataku dalam hati, tapi disini tak ada wastafel mencuci piring sambil jongkok pasti bukan hal menyenangkan. Tapi ini di rumah calon mertua, harus kulakukan ini demi terlihat rajin. 
"Bu, ada sunlight nya gak? Aku mau bantu cuci piring" Tanyaku
"Gak usah, duduk aja, cuci piring biar nisa aja" Jawab ibu
"Ya udah bu aku masuk lagi ya bu" Tanpa perlawanan akupun segera balik kanan, YES aku terlepas dari kegiatan mencuci piring ini. 
Mas Rido dan A Dzikro terlihat sudah bangun dan bergiliran ke kamar mandi. 
Aku mengecek HP sambil online sebentar, memposting foto perjalanan mudik ku di Facebook. 

"Eh aku gak boleh terlihat malas malasan di rumah ini, bisa bisanya aku main HP bukannya beres beres" Aku mengingatkan diriku sendiri, lalu mencari sapu ke sekeliling ruangan, berniat melakukan pekerjaan enteng itu dan Yah itu dia sapu nya ada di balik pintu. Segera kuraih sapu itu dan mulai menyapu ruangan dari kamar tempat ku tidur. 

Bapak masuk ruang tengah, sudah memakai seragam rapih ketika aku menyapu. Aku memang sengaja menyapu dengan pelan pelan selain agar lebih bersih juga agar terlihat oleh calon mertua. 
"Bapak mau berangkat dulu ke sekolah, harus beres beres sih. Ibu juga mau buka kantin" Katanya sambil melihat ke arah jam yang menunjukan pukul 6 pagi. 
"Nanti makan ya, ada di meja sudah ibu siapkan" Lanjutnya
"Iya pak, hati hati di jalan pak" Aku tersenyum manis sambil memegang gagang sapu, lalu segera membereskan urusan menyapu ku secepat mungkin. 

***
"Mau kemana kita mas? "
"Kolam pemandian air panas cinta, enak banget mandi disana biar badan kita gak pegel pegel kan udah perjalanan jauh kemarin"
"Oh boleh juga tuh mas, ya udah aku siap siap dulu" Aku segera ke kamar mengganti baju dengan kaos dan training lalu membawa baju ganti. 
Kita bertiga berangkat menggunakan 2 motor, jarak pemandian air panas ini tidak terlalu jauh dari rumah, bisa dicapai dalam waktu kurang dari 10 menit. 

Kolam air panas ini cenderung sepi, hanya aku Mas Rido, a Dzikro dan ada 3 orang dewasa lain nya yang sedang berendam di kolam. 
Air nya panas, bukan lagi hangat. Nyaliku ciut untuk berendam seluruh badan di kolam ini, karena baru kaki saja yang masuk rasanya sudah melepuh. 
"Cinta, cepet masuk, gak akan panas kok cuma awal awal aja panasnya" Mas Rido melambaikan tangan, a dzikro terlihat sudah menikmati sensasi berendam di air panas. 
Akupun akhirnya memberanikan diri masuk, benar saja ternyata  lama lama air kolam ini terasa hangat, tidak terlalu panas. 
Kami hanya berendam sekitar 20 menit, lalu bergegas berganti baju di kamar ganti. 
Mas Rido memesan mendoan dan teh manis. Uniknya teh ini di sajikan dengan teko dan gelas dari tanah liat, gula nya pun bukan gula halus melainkan gula batu yang bisa kita atur sendiri seberapa banyak yang kita mau di gelas. 
Aku mengambil satu mendoan, lalu mencocolnya dengan sambal kecap "Enaaaakkk!!! Ini lebih enakkk rasanya mas ya ampun berapaan sih ini?"
"Lima ratusan aja satunya cinta, ini mas cuma beli 10ribu segini banyak" Mas Rido menyuapkan mendoan ke dua nya
"Murah bangeett mana enak, teh nya juga enaak" Komentar ku, 
Aku sudah tak lagi menghitung berapa mendoan yang sudah kuhabiskan, mungkin 6 atau 8 biji. 
"Laper atau enak? " Ledeknya
"Jujur aku laper banget sih mas, gak nyangka ternyata tinggal di rumah calon mertua lumayan menguras tenaga ku"
"Menguras tenaga gimana?"
"Aku harus berusaha terlihat rajin ini rajin itu, capek, menyedot energi ku mas" Aku meneguk teh manis ku
Mas Rido dan a Dzikro tertawa lalu menyodorkan piring mendoan itu sepenuhnya kepadaku
"Habisin mendoannya, pura pura itu butuh tenaga" Kata Mas rido sambil tertawa lepas

*Bersambung.... 

Rabu, 09 Februari 2022

Kisah Cinta Sederhana (Part 21)


Akhirnya atas restu mamah dan bapak, aku pergi ke brebes untuk bertemu calon mertua. 
Pergi ber tiga bersama Mas Rido dan A Dzikro menggunakan bis dari terminal indihiang. 

Aku pakai setelan rok dengan kerudung di julur kebawah, karena sebelumnya sudah di briefing oleh mas Rido untuk gak pake celana jeans ketat dan pakai kerudung yang menutup dada. Jujur sebetulnya style kerudung aku selalu di sampirkan ke belakang. 

Bis nya lumayan nyaman dengan fasilitas AC, minimal tidak akan ada orang yang merokok di dalam bis. Track record ku cukup bagus untuk perjalanan jauh, jarang mual apalagi muntah kecuali jika kondisi ku sedang tidak fit. 

Ternyata perjalanan naik bis ini cukup melelahkan, karena 3x ganti bis. Dan 2 bis selanjutnya tidak ber AC. Bis yang terakhir bahkan banyak orang merokok didalamnya, banyak berhenti lama untuk menunggu penumpang, jujur kepala ku sudah mulai keleyengan. 

"Sebentar lagi cinta" Mas rido menguatkan ku
"Mas, aku gak sanggup kalau nanti kita nikah, tiap mudik harus naik bis kayak gini" Aku memelas sambil menahan mual
"Nanti kita cari cara lain buat mudik yaah kalau udah nikah biar cinta lebih nyaman" Dia menepuk nepuk punggung ku
Aku menyesal, bisa bisa nya dulu aku berdoa ingin mendapatkan calon suami orang jauh biar tiap lebaran bisa merasakan mudik seperti orang lain. Ternyata mudik gak selama nya menyenangkan. 

Setelah menempuh perjalanan hampir 6 jam lamanya, akhirnya kita turun dari bis terakhir ini di pinggir jalan raya dengan jalan kecil di sebelah kanannya. 
"Ayo cinta, kita jalan dulu, rumah mas disana masih harus jalan" Mas rido merapikan tas gendong nya. Ya tuhan, ku kira penderitaan ku sudah berakhir, ternyata masih harus jalan kaki menuju rumah calon mertua. 
Dengan lemah lunglai aku mulai jalan, sambil merapikan jilbab ku yang semerawut. 

Lalu tibalah kami di depan rumah ber cat hijau dengan banyak bahan kayu dan kursi di depan nya, aku baru tau kalau calon bapak mertua ku selain bekerja sebagai penjaga sekolah, beliau juga pengrajin kursi dan sofa. 
Pintu depan rumah terlihat terbuka, sepi. Mungkin mereka sedang berisitirahat. 
"Assalamualaikum bu, dodo pulang bu" Mas Rido masuk, mempersilahkan aku dan a Dzikro untuk ikut masuk dan duduk. 

Lalu keluarlah sosok wanita dari arah dapur, memakai daster khas ibu ibu, dengan beberapa helai uban di rambutnya. 
Mas Rido mencium tangan ibu, di ikuti aku dan a Dzikro. 
"Ini Desy bu, ini Dzikro temen dodo di kuliahan"
"Oh iya, cape ya? Ayo istirahat, makan dulu ibu udah masak" Ibu berbicara dengan logat khas jawa, medok dan cepat cara bicaranya. 
Tak lama keluar juga lelaki berpostur tinggi, badannya sedang, tidak kurus dan tidak gemuk, wajahnya 90% mirip dengan mas Rido, sudah bisa ku tebak kalau ini Bapaknya. 
"Baru sampai? Jam berapa berangkat darisana?" Tanya nya sambil mendekati kami, lalu kami bergegas mencium tangan nya. 
"Pagi pak berangkatnya, bis nya banyak berhenti" Mas Rido meletakan tas gendong nya di lantai
"Oh ini desy ya? " Bapak menatap ku, aku tersenyum gugup
"Iya pak" 
"Masih kuliah semester berapa? "
"Semester 4 pak, beda setaun sama mas Rido" Jujur jantungku rasanya mau copot, lututku lemas, berharap mas rido mempersilahkan lagi kami untuk duduk. 
"Ayo duduk, istirahat aja dulu, habis itu makan, udah di siapin itu makanan nya" Lanjut bapak
"Oh iya makasih pak" Aku kembali duduk, menyeruput air teh di depan ku yang sudah di sediakan oleh ibu
***
Badan ku rasanya lengket setelah menempuh perjalanan jauh ini. Aku meminta izin untuk ikut mandi lalu sholat ashar. 
Ibu menunjukan kamar mandi nya, ada sumur di bagian luar kamar mandi lengkap dengan katrol, timbaan dan embernya. Firasat ku gak enak, jangan jangan memang disini belum pake sanyo dan aku harus menimba air untuk mandi. 
Betul saja ternyata, ada ember ember kosong di dalam kamar mandi, satu nya terisi penuh, yang lain masih kosong, karena aku ingin mandi dengan puas, satu ember pastilah tidak cukup. Aku harus menimba air, memenuhi ember lain yang masih kosong. 

Jujur aku lupa kapan terakhir kali aku belajar menimba air, mungkin jaman masih kecil di rumah nenek. Aku menurunkan ember yang langsung meluncur bebas mengakibatkan tali nya keluar dari katrol, nyangkut di sela pinggir kantrol. 

Sial! 
Aku panik langsung memanggil mas Rido
"Kenapa cinta? "
"Itu nyangkut mas, gak bisa di tarik"
Mas rido tertawa, "kalau gak bisa minta tolong mas aja cinta"
Aku malu sekali, ada ibu yang sedang menonton TV. Jangan jangan ini langkah awal kegagalan ku masuk dikeluarga ini, nimba air saja belum lulus. 
"Cinta, tau gak kenapa dada mas bisa sebidang ini? " Katanya sambil menimba air
"Rajin olahraga?" Tebak ku
"Enggak cinta, karena dari kecil mas udah terbiasa ngambil air dari sumur gini buat ibu masak, nyuci, segala macem"
"Oowwwhh..." Aku melihat ember ember di kamar mandi sudah mulai penuh, ah rasanya aku sudah tak sabar ingin mandi dan membersihkan diri. 
"Mas, makasih ya aku mandi dulu, besok aku belajar nimba air sendiri" Kataku sambil nyengir dan menutup pintu kamar mandi

***

Malam hari nya setelah sholat isya, barulah bapak bisa benar benar mengobrol dengan kami. 
Aku, mas Rido, a Dzikro dan bapak mengobrol di ruang depan sambil menikmati mendoan di cocol kecap pedas yang di beli dari tetangga depan, sementara ibu dan adiknya mas Rido terlihat berada di depan TV. 

"Bapak kerja dimana? " Bapak memulai percakapan
"Di koramil pak, sebentar lagi sudah mau pensiun, kalau mamah dirumah aja, kadang sambil jualan buka warung kecil di depan rumah nenek" Aku sudah mulai bisa menjawab dengan tenang
"Oh iyaa, bapak disini cuma penjaga sekolah, ibu jualan di kantin tempat bapak sekolah, tapi alhamdulillah meski penjaga sekolah, bapak statusnya sudah PNS, bentar lagi pensiun juga" 
"Ooohhh iya pak" Aku mengangguk faham
"Jaman dulu, penjaga sekolah bisa jadi PNS, alhamdulillah ada jaminan buat hari tua" Lanjut bapak. 
Aku berfikir ternyata mas rido kehidupan ekonominya bisa dikatakan menengah, tapi kenapa dia banting tulang sendiri membiayai kuliahnya. 
"Dodo dulu minta izin kuliah, cuma bapak nggak izinin. Malah nekat ke tasik daftar kuliah gak bilang bilang, bapak tau nya dodo udah masuk kuliah aja" Bapak seakan menebak isi pertanyaan dalam fikiran ku
"Dia mau bayar uang kuliah sendiri katanya biar banyak pengalaman dan mandiri, ya bapak cuma bantu kasih uang jajan aja sedikit, adik nya dodo kan masih sekolah juga"
"Oohh iya pak" Aku mengangguk lagi
"Ayo dimakan lagi itu makanan nya, bapak tinggal dulu ke belakang" Bapak berdiri lalu pamit keluar dari ruang tamu. 
"Nakal kamu ya kabur ke tasik gak bilang bilang orang tua" Bisik ku
"Kalau mas gak kabur ke tasik, mas gak akan ketemu cinta" Jawabnya
Tawa kami bertiga menutup percakapan malam ini, badan kami pun sudah lelah karena perjalanan panjang. Aku segera masuk kamar untuk tidur, tak lupa minum tolak angin agar kondisi ku besok semakin membaik. 

*bersambung

Selasa, 08 Februari 2022

Kisah Cinta Sederhana (Part 20)



Seminggu lebih kita bekerja keras menyebar informasi seminar bahasa inggris ini. 
Usaha tidak mengkhianati hasil tentunya, hari ini peserta seminar mencapai 500 peserta dari target awal hanya 200 peserta. 

Aku sudah stand by satu jam sebelum acara, mengecek kembali berkas daftar ulang dan absensi di meja depan bersama beberapa teman mas rido yang dilibatkan dalam acara ini. 

Mas Rido sendiri masih sibuk mengecek sound, bolak balik merapikan kursi dan menyapa peserta yang satu demi satu mulai berdatangan. 
Ruangan sudah penuh sesak, mas Rido dari atas panggung menatapku, memberikan isyarat bahwa acara akan segera dimulai. 
"Good luck" Bisik ku sambil mengacungkan jempol ke atas

Suara tepuk tangan peserta yang antusias dengan opening seminar bahasa inggris ini menggema ke seluruh ruangan. 
Mas Rido dengan gaya nya yang khas sudah mampu menyihir dan memikat para peserta yang hadir bahkan sejak salam pembukaan di ucapkan

Aku berdiri di pojok ruangan, mengaguminya- mengagumi semangat juang nya yang tak pernah padam, energi nya yang tak pernah habis, semangat nya yang tak pernah redup. 
Aku tersenyum sambil berkaca kaca :
"Aku bahagia menjadi bagian dari perjuangan mu mas... "
Dia melirik ke arahku dan melemparkan senyum manis, seakan kontak batin terhubung diantara kita. 

Acara berjalan lancar dan meriah sampai sore hari,  semua peserta pulang dengan wajah sumringah, panitia pun ikut terharu dan bangga. 

***
"Cinta, mas anter pulang ya"
"Oke mas" Aku mengangguk dan tersenyum
"Gimana mas tadi di panggung?" Tanya nya. 
Aku mengacungkan dua jempol "hebat, hebat banget"
"Makasih ya cinta udah mau capek hari ini bantuin mas"
"Aku malah seneng kok, gak cape sama sekali"
"Mas traktir makan ya, cinta bebas pilih mau makan dimana aja" 
"Makan Nasi goreng mang udin aja" Aku tertawa kecil
"Serius cuma mau makan nasi goreng?" Dia terlihat tak percaya
"Serius, kalau mas ada uang lebih, simpen aja buat keperluan mas bayar kuliah atau nabung" Lanjutku
"Uuh so sweet banget, makasih cinta. Let's go kita makan di Nasi goreng mang udin" 

***
"Cintaa... "
"Hhmmmm..." Aku menjawab singkat karena sedang sibuk main game Cafeland di laptop ku, sementara mas Rido terlihat sedang membuat slide presentasi
"Liburan semester nanti mas ada rencana mudik"
"Oh iyaa, berapa lama? " Aku belum berpaling dari layar laptop
"4 hari biasanya"
"Oke mas" Jawabku singkat
"Mmm.....gini cinta, mas mau ajak cinta ketemu sama orang tua mas, kalau cinta bersedia"
"Oh...." Jawab ku santai "Eh APA MASS?" Aku setengah teriak baru sadar dengan apa yang ku dengar, beberapa orang di perpustakaan melirik ku dengan tatapan sinis. 
"Mas mau ajak cinta ke Brebes, buat dikenalin sama orang tua dan keluarga mas" Katanya pelan
"Aku belum siap mas, aku juga ragu mamah sama bapak bisa ngizinin anak gadisnya pergi jauh sama cowok"
"Kita gak pergi berdua, mas mau ajak Dzikro juga" Jelasnya. 
Dzikro ini salah satu murid mas rido di kursusan. Beda jurusan dengan kita, tapi sering bertemu sama mas rido di pesantren dan sering dilibatkan dalam berbagai kegiatannya. 
"Masalah izin orang tua cinta, biar mas langsung yang minta izin sama mamah dan bapak" Katanya meyakinkan ku
 "Gimana cinta?"
"Orang tua mas galak gak?" Aku membayangkan keluarganya yang tidak setuju anaknya menikah dengan orang sunda, lalu tiba tiba mas rido pulang bawa cewek sunda yang manja dan gak bisa pergi ke sawah ini. 
"Bapak Galak, ibu enggak" Dia tertawa kecil
"Aku takut mas, nanti aku malah gak diterima lalu di usir dari sana"
"Ah cinta mah kebanyakan nonton sinetron, udah percaya aja sama mas. Ini jalan satu satu nya biar cinta bisa diterima dikeluarga mas"
"Ya udah, nanti mas coba izin sama orang tua aku, kalau mereka izinin, aku setuju ikut"
"Nah gitu doooongg kan mas makin semangat, mas sih yakin keluarga mas bisa nerima cinta" 
"Kok bisa yakin?"
"Cinta mah cewek sunda yang di kecualikan" Dia tertawa lagi
"Pasti karena aku cantik ya?"
"Ahaahahaha iya, sekampung mas kayaknya cinta paling cantik" Dia mencubit hidung ku
"Ih gombal" Aku tersenyum malu, perpustakaan ini terasa milik kita berdua. 

Bersambung...