Pages

Rabu, 10 Mei 2023

CAPEK

Lagi di fase capek.

Capek ngurus anak, capek karena harus menahan diri padahal banyak hal yang ingin ku lakukan.

Capek karena terus berfikir gimana caranya bisa cepat mewujudkan mimpi punya rumah yang lebih besar.

Uang darimana? Usaha apa? Jalan nya darimana?

Capek karena terus memaksakan diri, 
Hey, apa sebenarnya yang ingin aku kejar sampai diri ini merasa begitu lelah?

Kamis, 06 April 2023

Kado Ulang Tahun

Ada sakit hati yang sulit aku lupakan tahun ini.

Hari itu, anak pertama ku berulang tahun yang ke 7. Seperti biasa, selalu ada perayaan kecil setiap kali dia berulang tahun. Hari itu ayah, bunda dan orang terdekat memberinya kado kecil, kecuali nenek.

Nenek berjanji membelikannya sepasang sendal, tapi batal. Sendal nya bunda yang belikan. "Terus aku dapat kado apa dari nenek?" Tanya nya.
"Gak apa apa, kan kaka udah dapat kado dari ayah bunda" jawab ku. 
Oh iya, mungkin nenek lupa.

Sebulan setelahnya, anak ke dua ku juga berulang tahun yang ke 4. Perayaan kecil kami gelar sebagai bentuk rasa syukur. Dia begitu excited membuka kado kado kecil dari orang terdekat termasuk dari ayah dan bunda.
Tapi lagi lagi nenek lupa memberi kado, 
"Aku gak dapat kado dari nenek" katanya
" Nggak apa apa, mungkin nenek lupa" jawabku

Tapi, nenek nggak pernah lupa memberi kado untuk cucu nya yang lain, selain anak ku. Masih tajam di ingatan, nenek begitu sibuk mencari kado baju untuk cucu lain, sampai membelikan sendal. Bahkan meminta ku juga untuk memberi nya kado, gak apa apa akupun ikhlas memberi toh aku tau betapa anak lain akan senang mendapatkan kado walau sekecil apapun itu.

Aku tau mungkin nenek merasa anak anak ku sudah cukup mendapatkan kado dari aku, suamiku, orang orang terdekatku.  tapi nenek lupa bahwa kado sekecil apapun itu untuk anak anak ku adalah bentuk perhatian dan kasih sayang nenek kepada cucu nya.

Lucu memang, gara gara kado saja aku bisa sakit hati dan sulit melupakan. Dasar aku ☺️


Selasa, 05 Juli 2022

keyakinan


Banyak yang bilang kamu perempuan. 
Hasil USG kemarin menyatakan 60% kamu berjenis kelamin perempuan. 

Kemungkinan nya 60% karena posisimu tidak mendukung. Kamu malu malu menunjukan alat kelamin mu nak. 

Gak apa, asal kamu sehat. 

Tapi entah mengapa, seribu orang pun yang bilang kamu ini berjenis kelamin perempuan. Bunda masih punya keyakinan sedang mengandung anak laki laki yang tampan, putih bersih kulitnya, montok badan nya. Masyaallah
Toh bunda masih punya harapan walau dengan persentase 40%.

Sampai ketemu di USG berikutnya nak, sehat selalu, USG nanti di liatin jenis kelaminnya dengan jelas ya sayang, jangan ngumpet ngumpet lagi. Love you nak ❤

Senin, 06 Juni 2022

Beruntung ❤


"Aku pernah loh ragu sama kamu mas, pas kita udah lamaran, dan sebulan lagi nikah"

"Ragu kenapa?" Tanya nya sambil terus memperhatikan layar HP, sibuk mengetik chat balasan yang jumlahnya belasan, belum sempat di balas seharian katanya. 

"Mmmm, selama ini aku udah hidup cukup susah dengan segala permasalahan keluarga, aku struggle sendiri, aku cari uang buat jajan, buat ini dan itu sendiri, jujur capek banget waktu itu"

"Terus aku berfikir, nikah sama kamu yang belum punya pekerjaan tetap, apa gak bikin hidup ku makin ruwet ya?" 

Dia tersenyum kecil, masih sibuk dengan HP nya. 

"Tau gak? Dari dulu aku selalu bercita cita menikah sama orang kaya, yang udah punya rumah, punya mobil, aku udah hidup enak gak perlu lagi dibawa susah" Kini giliran ku yang tertawa,

"Tapi akhirnya takdir juga yang menyatukan kita ya mas" 

"Aku bersyukur dari sejak gadis udah mandiri, udah terbiasa ngadepin banyak masalah, jadi setelah nikah pun udah terbiasa, terbukti kan aku gak banyak ngeluh, aku bantu cari tambahan uang buat bayar kontrakan, karena emang udah biasa dari dulu. Kamu harusnya bersyukur punya aku mas, gak banyak cewek yang mau di ajak hidup dari nol"

Dia terlihat melepaskan HP di genggaman nya, berguling memeluk ku yang sedang membaringkan diri di kasur karena lelah dengan semua aktivitas mengurus rumah, suami dan anak anak, dan malam ini sudah lega karena Syana sudah tidur , kaka nela pun sudah nyenyak di kamar nya sendiri. 

"Makasih ya bunda, ayah beruntung bisa punya istri sebaik dan secantik bunda" Nadanya lebih terdengar meledek karena sambil cengengesan

Ku genggam wajahnya dengan kedua tangan ku, melihat kerutan halus di ujung matanya, kulitnya yang berubah jadi sawo matang padahal dulunya putih bersih, matanya yang lelah tanda setiap hari dia berjuang, bergelut dengan segala macam pekerjaan demi bisa memberi kehidupan yang layak dan nyaman untuk keluarga kecilnya. 

"Tau gak mas? Sebenernya, aku yang lebih beruntung bisa jadi istri kamu. Gak ada satu penyesalan pun dalam diri aku sudah memilih kamu jadi pasangan aku, jadi Ayah dari anak anak aku"

"Mungkin kita sama sama beruntung ya, saling menemukan satu sama lain" Ku berikan senyum paling manis, dengan perasaan paling tulus untuk laki laki tangguh di hadapan ku. 

"Bunda, anak anak udah tidur" Katanya memecah keharuan ku

"Terus?"

"He he he..." Dia ketawa ketiwi dengan wajah jahil dan manjanya, semakin erat tangannya memeluk ku. 

"Aku kabur jangan?" Tanya ku polos

"Jangaann, gak akan bisa kaburr! " Ketawanya makin keras sampai nyaris membangunkan anak ke dua kami yang tertidur di samping ku. 

"Sssssssssssttttttttt" Refleks kami berdua meletakan telunjuk di bibir saling mengisyaratkan dan berujung tertawa konyol bersama. 



Jumat, 03 Juni 2022

Allah itu Maha Kaya

Alhamdulillah tanggal muda, hati selalu lega karena tandanya sebentar lagi suami gajian. 

"Bun, minggu depan kita bayar pajak kendaraan 2 sekaligus, mobil dan motor"

"Hah? Serius?" Aku jujur kaget karena ku kira waktunya gak se-berdekatan itu. 
Aku menghela nafas, Membayangkan uang gajian akan langsung raib saat itu juga bahkan nominalnya kurang karena belum termasuk bayar listrik dan cicilan rumah. 

"Ayah, saldo di BRI sedikit lagi, itupun buat modal kita jualan kan yah"
"Ya gimana lagi bun, ayah juga lupa gak inget dari bulan kemarin, tau gitu bisa nabung dulu"
mengingat pengeluaran kita bulan kemarin dan bulan ini lagi ancur ancuran (bukan karena beli barang atau liburan ya) tapi memang karena kebutuhan penting, sehingga uang modal jualan kita pun ikut terkuras. 

"Ya udah yah gimana nanti aja, insyaallah ada rezeki buat bayar pajak" Aku selalu mencoba tenang, ya karena mau panik pun gak akan bisa ngehasilin uang. 

Hari itu seperti biasanya ku gelar sajadah, menunaikan sholat dhuha lalu lanjut baca surat Waqiah, dhuha kali ini doanya ku khususkan :

"Ya Allah, cukupkan rezeki ku untuk bayar pajak, biar uang gaji ada sisa untuk keperluan lain. Lancarkan usaha kami, lariskan jualan kami ya Allah" 

Ku berdoa bersungguh sungguh,  ya karena nominal nya emang gak kecil kalau langsung bayar pajak 2 kendaraan di kondisi ekonomi yang belum stabil 😆

Selesai sholat aku beres beres kamar anak sulung, ku tarik keranjang dibawah kasur untuk ku sapu. Lalu ingatlah aku di keranjang ini ada stock barang jualan yang belum habis terjual. 

Ku keluarkan isinya, ku hitung hitung lumayan juga nih kalau terjual nominalnya sekitar 500ribu. Lalu tanpa ragu aku foto dan posting produknya, bismillah aja nyari tambahan buat bayar pajak

Masyallah, malam nya habis terjual semua. Setelah dihitung hitung bertambahlah saldo ku sekitar 600ribuan.

Coba lagi posting jualan skincare, bismillah lagi di niatkan yang sama. Dan seharian itu tiba tiba banyak yang order, notif transferan terus bermunculan sampai malam. 
kalau di hitung hitung keuntungan jualan skincare dapat sekitar 250ribuan, wah masyaallah. Kalau di jumlah sangat lumayan untuk nambah nambah bayar ini itu. 

Lalu hari ini dapat kabar suami juga ada bonus tambahan dari kegiatan outbound bulan lalu, alhamdulillah bonusnya cair hari ini di saat kita bener bener butuh. 

Semakin yakin kalau :
Allah itu maha Kaya, 
Minta sama Allah, disertai ikhtiar, 
Insyaallah Allah mudahkan. 
Allah datangkan pembeli kepada kita, Allah kasih kita rezeki dari arah yang bahkan tak kita duga. 

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah ❤


Selasa, 31 Mei 2022

Tentang Mimpi dan Cita cita

"Kapan punya rumah yang lebih besar? Ini barang barang dirumah makin numpuk aja disana sini, malu kalau ada tamu" 
Ya beginilah kurang lebih komentar orang tua ku, hampir setiap kali berkunjung ke rumah mungil kami. 

Kebetulan sekali kami tinggal diperumahan subsidi tipe 36, sudah kebayang ya semungil apa rumahnya. Ditambah kami aktif berjualan online, tiap datang stock barang jualan mestilah rumah kami semakin sesak, jadi wajar juga kalau orang tua berkomentar demikian. 

Aku biasanya hanya senyum dan menjawab : "insyaallah kalau lahir anak ke 3 nanti kita bangun rumah yang lebih besar". Ku jawab begini bukan karena tabungan ku sudah banyak, percayalah tabungan kami saja awal tahun ini sudah terkuras untuk keperluan mudik dan bayar sekolah si sulung yang baru daftar ke salah satu SD swasta. Belum lagi aku dengan kondisi hamil anak ke 3, tentunya ke depan harus menabung ekstra untuk keperluan menyambut sang calon anggota baru. 

Tapi sejak dulu, aku percaya setiap anak selalu membawa rezeki masing masing. 
Dulu sekali, kami tinggal di kontrakan sepetak yang hanya punya 1 kamar, 1 ruang tamu kecil dan dapur sempit yang bahkan luasnya gak bisa dilewati 2 orang dalam waktu bersamaan. 

"Kapan ya mas kita punya rumah sendiri yang lebih luas dari ini?"
"Insyaallah tahun ini kita punya rumah sendiri" Jawabnya mantap
Aku hanya bisa tersenyum kecil, bagaimana mungkin punya rumah sendiri, tabungan kita aja masih jauh dari kata cukup. Seingat ku dulu saat anak pertama kami, Arnela berusia 14 bulan, kami baru punya tabungan sekitar 10juta, tentunya nominal ini masih jauh untuk kami bisa punya rumah sendiri dengan cepat. Ambil perumahan sekalipun ini mungkin hanya cukup untuk bayar DP rumahnya, sementara di perumahan subsidi kita harus bangun dapur, benteng, pagar segala macam dengan biaya terpisah diluar itu. 

Lucu, waktu itu tiba tiba aku mengajukan syarat pada suami : "mas, aku sanggup punya anak ke 2 walau jarak dekat, asal kita sudah punya rumah sendiri, gak tau kenapa aku belum mau nambah anak kalau kita masih terus terusan ngontrak"

Sejak dari itu, kita punya target dan semangat baru. Suami kerja dan ambil sampingan untuk ekstra menabung, akupun dirumah bantu dengan wirausaha kecil kecilan (dulu masih produksi bros dan souvenir nikahan yang kukerjakan sendiri sambil ngasuh anak). 

Tepat di usia anak pertama menginjak 20 bulan, kami akhirnya nekat ambil rumah di salah satu perumahan di Rajapolah. Walau prosesnya lama, bangun dapur dll pun banyak tersendat karena keterbatasan biaya, namun akhirnya di usia Arnela 22 bulan, kami sudah pindah menempati rumah baru. 

Sesuai janji, setelah punya rumah sendiri tak menunggu lama akupun langsung hamil anak ke dua. 

Perjalanan kami masih berlanjut, karena harus bayar cicilan yang lumayan besar nominal nya untuk kami yang pada waktu itu gaji tetap suami baru 1,2 juta. (Ini dipake bayar cicilan aja udah cuma sisa buat jajan sehari dua hari) sehingga kami kembali banting tulang jualan ini itu. 

Anak pertama kami jadi saksi, belanja barang naik motor panas panasan, kehujanan, tak jarang gadis kecil kami harus rela duduk diatas tumpukan barang di motor, saking sudah penuh sesak dengan kondisi aku yang hamil anak ke dua, sungguh nikmat rasanya. 

Setiap lihat mobil lewat, aku bersholawat. Berdoa dalam hati berulang ulang :
"Ya Allah, semoga anak ke dua kami ini membawa rezeki besar untuk keluarga kami, insyaallah anak ke dua punya mobil, biar kalau belanja barang gak perlu desak desakan, kepanasan dan kehujanan" Doa yang selalu ku ulang ulang hampir setiap bepergian lihat mobil berseliweran. 

Alhamdulillah, setahun setelah anak ke dua lahir, kami di amanahi mobil. Meski kondisinya sudah tua, bener bener mobil tua dan antik tapi kondisi nya masih cukup bagus, masih bisa dipake bepergian dan angkut angkut barang, walau tanpa AC, kalau cuaca panas kita semua kayak kepiting rebus, merah kepanasan dalam mobil. Alhamdulillah mobil antik yang kami beri nama Oma ini lah yang menjadi saksi perjalanan baru kami, mobil ini yang menemani kami pindah dari bisnis ke bisnis, sampai suatu hari karena Oma sudah tua juga dan sering dipakai angkut barang banyak, dia sudah tak sanggup bertahan, hampir 2 minggu sekali masuk bengkel. 

"Mas, kayaknya kita harus kerja keras lagi biar bisa ganti mobil" Mengingat kejadian terakhir tergolong parah karena tiba tiba ban depan Oma copot sendiri menggelinding saat dipake, untunglah gak ada kecelakaan atau apapun karena kebetulan jalanan sepi dan bukan di jalan raya kejadiannya. 

"Bun, insyaallah tahun ini kita ganti mobil, selambat lambatnya tahun depan ya" Begitu komentar suami. 

Pede sekali ku bilang, karena aku tau sekali berapa uang tabungan kita pada saat itu, sementara kita bercita cita membeli mobil dengan cash walau second, karena tidak mau lagi terbebani cicilan, cukup cicilan rumah saja. 

Aku sempat mengajukan mahar saat suami disaat yg sama meminta ingin program anak ke 3.

"Boleh, aku sanggup. Setelah ganti mobil, mobil apapun itu asal lebih nyaman dan bisa angkut barang buat jualan dan gak sering ke bengkel, saat itu aku sanggup hamil anak ke 3"

Dan keajaiban terjadi lagi, entah bagaimana allah mudahkan jalannya, kami pernah jualan 3 bulan berturut turut dengan laba bersih per bulannya 7-10juta, sehingga pertengahan tahun saldo tabungan kami terkumpul 50juta. Tapi belum cukup untuk membeli mobil yang lebih muda sesuai kriteria yang kami mau. 

Sempet mau beli mobil kecil seperti karimun, karena memang budget nya hanya cukup untuk mobil tipe itu, tapi mengingat kami ini orang jualan yang sering angkut barang dengan jumlah besar, maka kami bersabar lagi sambil ikhtiar mencari tambahan uang, dan menunggu mobil lama terjual agar ada tambahan dana. 

Alhamdulillah, menjelang akhir tahun 2021. Berjodohlah kami dengan salah satu mobil yang sesuai dengan kriteria yang kami cari, dan sesuai budget yang kami punya, gak perlu mewah karena kami cari mobil sesuai fungsinya juga. 

Tak lama dari itu, sesuai janji. Di akhir pergantian tahun, aku hamil anak ke 3.

Aku selalu percaya bahwa hal yang kita impikan selama kita yakin dan percaya, dibarengi dengan ikhtiar dan doa, kalau Allah sudah berkehendak, tak menunggu lama kun Fayakun saat itu juga Allah mudahkan jalan nya. 

Selalu percaya bahwa mungkin bagi manusia terlihat mustahil, tapi bagi Allah tidak ada yang mustahil, semua mudah bagi NYA. 

Tetap optimis, tetap ikhtiar dan jangan lepas berdoa. Insyallah semoga mimpi mimpi kita yang lain bisa terwujud kembali dengan kehendak NYA. 🥰

Minggu, 22 Mei 2022

Gadis dengan impian yang sederhana


19 tahun usianya kala itu. 
Seorang gadis yang sudah menginjak usia dewasa, berstatus mahasiswi di salah satu Sekolah tinggi jurusan Ekonomi. 

Track record nya cukup bagus, meski bukan gadis dengan IQ cerdas, tapi dia selalu berhasil mendapatkan rangking bagus selama sekolah, begitupun di Kampus, bisa di bilang dia salah satu mahasiswi  berprestasi. 

Meski begitu, cita citanya tidaklah muluk. Gadis ini hanya punya impian yang sederhana :
Menikah di usia muda, punya anak perempuan yang lucu dan menggemaskan, memasak makanan dan camilan untuk anak anak, mengantar dan menyambut suami pulang kerja di depan rumah dengan hati bahagia. 

Pernah dia bercita cita kerja kantoran, kerja di Bank, atau menjadi dosen. Tapi hanya sekelebat keinginan dalam hatinya, tidaklah sekuat cita citanya untuk menikah muda. 

Meski usianya masih muda, tapi sudah banyak hal yang dia lalui, latar belakang masalah keluarga yang bermunculan pun mulai mendewasakan nya, dia sudah terbiasa hidup mandiri, mencari uang jajan sendiri dengan segala cara di usianya yang masih terbilang muda. 

Rasa lelah dengan kehidupan yang setiap hari dia jalani , dan semua kesedihan selalu dia tanggung sendiri, membawanya berfikir bahwa mempunyai suami mungkin bisa mengurangi bebannya, akan ada pundak kokoh yang bisa jadi sandarannya ketika beban hidupnya semakin bertambah. 

Si Gadis ini sungguhlah beruntung, bertemu dengan lelaki yang meskipun belum mapan secara finansial, tapi di mata nya dia bisa melihat kehidupan yang bahagia, di genggaman tangannya dia temukan kenyamanan, dan di pundaknya dia bisa sandarkan semua beban dan kesedihan. 

Bersama lelaki ini dia berjuang dari titik terendah, hidup di kontrakan sepetak dengan motor tua yang sering mogok di jalan. Apakah dia bahagia? 

Ya, lebih bahagia dari kehidupan sebelumnya yang dia jalani. 

Dia bahagia, karena impiannya tercapai, meski tidak semulus yang dia bayangkan, tapi inilah kehidupan yang selama ini dia Inginkan. 

Dan inilah Gadis itu sekarang, dengan segala keinginannya dalam kehidupan ; suami yang baik, anak anak yang lucu dan menggemaskan. Dia bahkan bisa memasak dan membuatkan camilan untuk keluarga kecilnya, hal hal sederhana yang mampu membuatnya Bahagia.